Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n\n
Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n\n
Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n
Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n\n
Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n
Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n
Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n\n
Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n
Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n
Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n
Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n\n
Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n
Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n
Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n
Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n
Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n\n
Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n
Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n
Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n
Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n
Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n
Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n\n
Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n
Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n
Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n
Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n
Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n
Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n
Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n\n
Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n
Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n
Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n
Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n
Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n
Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n
Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n
Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n\n
Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n
Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n
Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n
Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n
Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n
Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n
Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n
Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n
Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n\n
Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n
Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n
Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n
Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n
Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n
Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n
Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n
Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n
Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n
Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n\n
Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n
Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n
Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n
Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n
Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n
Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n
Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n
Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n
Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n
Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n
Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n\n
Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n
Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n
Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n
Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n
Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n
Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n
Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n
Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n
Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n
Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n
Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n
Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n\n Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n\n Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n\n Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n\n Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n\n Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n\n Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n\n Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n\n Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n\n Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n\n Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};