\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n\n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n\n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n\n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n\n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n\n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n\n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n\n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5559,"post_author":"877","post_date":"2019-03-20 09:42:47","post_date_gmt":"2019-03-20 02:42:47","post_content":"\n

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi, melainkan juga melahirkan beragam kekayaan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, sampai saat ini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. <\/p>\n\n\n\n

Lahirnya kretek memiliki akar sejarah dalam budaya tembakau, yaitu cara mengonsumsinya, baik dikunyah atau dihisap. Kebiasaan ini lazim disebut nyusur<\/em> atau susur<\/em>. Kita mengenal jenis tembakau susur (mbako susur<\/em>). Sementara budaya tembakau juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang budaya kapur-sirih, yang secara umum disebut nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. Dalam budaya nyirih<\/em> atau nginang<\/em> nampak posisi tembakau adalah entitas yang bersifat komplemen atau bahkan substitusi. Dalam perkembangannya istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa secara common sense<\/em> digunakan secara sinonim. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> boleh jadi tak lagi memiliki perbedaan semantik alias artinya adalah setali tiga uang. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Budaya Tak Bendawi<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Panjangnya usia tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> masyarakat Nusantara setidaknya sudah tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang<\/em>) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih. Ini artinya bisa jadi tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em>\u2014karena itu juga keberadaan tanaman tembakau dan tradisi nyusur<\/em>\u2014sebenarnya sudah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Tafsiran sejarah ini mungkin saja benar, meski bukan mustahil juga keliru. Namun menyimak folklore atau tradisi lisan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat Temanggung, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata mbako<\/em> atau tembakau dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan pada saat beliau mengobati orang sakit, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Sementara di sisi lain, mengingat tidak adanya data literal tentang penggunaan kata \u201ctembakau\u201d sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, maka tafsiran sejarah dominan adalah bangsa Portugis-lah yang disinyalir memperkenalkan tembakau di Indonesia, Tafsiran ini juga didasarkan pada asumsi telaah filologis, di mana kata \u201cbako\u201d<\/em> atau \u201cmbako\u201d<\/em> dalam bahasa Jawa dianggap dekat dengan bahasa Portugis \u201ctumbacco\u201d<\/em> dan \u201ctobacco\u201d<\/em>. Menurut Thomas Stamford Raffles, tembakau diperkenalkan pertamakali ke Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1601. Pun demikian pendapat De Candolle, tembakau juga dibawa masuk Indonesia oleh bangsa Portugis pada 1600. <\/p>\n\n\n\n

Meski demikian sebenarnya tetap belum ada catatan pasti kapan persisnya tanaman tembakau dan budaya tembakau masuk dan mulai terbentuk di Indonesia.  Akan tetapi, bagaimana entitas tembakau memiliki pertalian khusus dan secara simultan telah membentuk anyaman sejarah dan wajah kebudayaan Indonesia, bukti-bukti faktualnya demikian kasat mata. Baik itu secara historis, ekonomi, sosiologis maupun antropologis.<\/p>\n\n\n\n

Lain halnya komoditas cengkeh. Ini sudah dapat dipastikan adalah tanaman endemik Indonesia timur. Pada awal era modern cengkeh ditemukan tumbuh di daratan Pulau Ternate, Tidore, Bacan, Moti dan Bakian di Kepulauan Maluku. Pada abad ke-18 ketika VOC kehilangan monopolinya terhadap perdagangan cengkeh, bangsa Perancis justru berhasil menyelundupkan bibit tanaman cengkeh ke Reuni dan pulau-pulau Lautan Hindia yaitu Zanzibar dan Madagaskar, dan sukses membudidayakannya di sana. <\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK CERMINAN KEDAULATAN EKONOMI DAN TRADISI BUDAYA BANGSA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Hanya saja bicara fenomena mengonsumsi tembakau dengan cara baru yaitu \u201cdibakar\u201d, barangkali adalah benar bahwa kebiasaan itu mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam Babad Ing Sengkala<\/em> sudah diceritakan tentang kesukaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram-Islam yaitu Sultan Agung. Narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar pun terdokumentasi dalam folklore dan lakon ketoprak kisah cinta Rara Mendut, yang mengambil konteks sejarah pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645).<\/p>\n\n\n\n

Juga dalam berbagai teks susatra Jawa lainnya, yang kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa ini digunakan kata \u201cngudut\u201d<\/em>, \u201ceses\u201d<\/em> atau \u201cses\u201d<\/em> sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d<\/em> . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.<\/em> <\/p>\n\n\n\n

Jika mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar adalah bagian dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi kapur-sirih, maka budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d<\/em>, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. Klobot<\/em> adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen<\/em> atau rokok diko<\/em> berasal dari daun nipah; rokok pupus<\/em> berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung<\/em> berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKRETEK KAJIAN EKONOMI & BUDAYA EMPAT KOTA\u201d SEBUAH ANALISA DALAM KACAMATA ANTROPOLOGI BUDAYA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};