\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n\n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n\n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n\n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n\n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n\n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n\n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n\n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n\n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n\n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n\n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n\n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n\n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n\n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n\n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n\n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n\n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n\n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n\n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n\n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n\n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n\n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n\n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n\n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n\n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n\n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n\n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n\n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n\n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n\n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n\n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n\n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n\n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":"\n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n \n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n \n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n \n\n \n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n \n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n \n\n \n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n \n\n \n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n ","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n \n\n \n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n \n\n \n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n \n\n \n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n \n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n ","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":" \n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n \n\n \n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n \n\n \n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n \n\n \n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n \n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n \n\n \n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n ","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":" \n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n \n\n \n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n \n\n \n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n \n\n \n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n \n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n \n\n \n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n ","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":" \n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n \n\n \n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n \n\n \n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n \n\n \n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n \n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n \n\n \n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n \n\n \n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n ","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":" \n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n \n\n \n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n \n\n \n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n \n\n \n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n \n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n \n\n \n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n \n\n \n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n \n\n \n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n ","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":" \n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n \n\n \n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n \n\n \n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n \n\n \n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n \n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n \n\n \n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n \n\n \n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n \n\n \n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n ","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":" \n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n \n\n \n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n \n\n \n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n \n\n \n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n \n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n \n\n \n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n \n\n \n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n \n\n \n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n \n\n \n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n ","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":" \n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n \n\n \n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n \n\n \n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n \n\n \n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n \n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n \n\n \n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n \n\n \n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n \n\n \n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n \n\n \n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n \n\n \n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n ","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":" \n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n \n\n \n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n \n\n \n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n \n\n \n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n \n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n \n\n \n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n \n\n \n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n \n\n \n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n \n\n \n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n \n\n \n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n \n\n \n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n ","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":" \n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n \n\n \n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n \n\n \n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n \n\n \n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n \n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n \n\n \n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n \n\n \n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n \n\n \n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n \n\n \n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n \n\n \n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n \n\n \n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n \n\n \n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n ","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":" \n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n \n\n \n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n \n\n \n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n \n\n \n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n \n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n \n\n \n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n \n\n \n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n \n\n \n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n \n\n \n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n \n\n \n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n \n\n \n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n \n\n \n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n \n\n \n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n ","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":" \n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n \n\n \n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n \n\n \n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n \n\n \n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n \n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n \n\n \n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n \n\n \n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n \n\n \n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n \n\n \n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n \n\n \n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n \n\n \n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n \n\n \n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n \n\n \n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n \n\n \n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n ","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":" \n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n \n\n \n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n \n\n \n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n \n\n \n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n \n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n \n\n \n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n \n\n \n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n \n\n \n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n \n\n \n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n \n\n \n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n \n\n \n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n \n\n \n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n \n\n \n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n \n\n \n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n ","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":" \n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n \n\n \n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n \n\n \n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n \n\n \n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n \n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n \n\n \n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n \n\n \n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n \n\n \n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n \n\n \n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n \n\n \n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n \n\n \n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n \n\n \n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n \n\n \n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n \n\n \n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n ","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":" \n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n \n\n \n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n \n\n \n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n \n\n \n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n \n\n \n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n \n\n \n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n \n\n \n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n \n\n \n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n \n\n \n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n \n\n \n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n \n\n \n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n \n\n \n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n \n\n \n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n \n\n \n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n ","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":" \n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n \n\n \n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n \n\n \n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n \n\n \n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n \n\n \n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n \n\n \n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n \n\n \n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n \n\n \n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n ","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":" \n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n \n\n \n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n \n\n \n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n \n\n \n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n \n\n \n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n \n\n \n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n \n\n \n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n \n\n \n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n \n\n \n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n \n\n \n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n \n\n \n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n \n\n \n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n \n\n \n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n \n\n \n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n \n\n \n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n \n\n \n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n \n\n \n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n \n\n \n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n \n\n \n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n \n\n \n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n \n\n \n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n ","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5571,"post_author":"877","post_date":"2019-03-25 11:38:22","post_date_gmt":"2019-03-25 04:38:22","post_content":" \n

Sekilas kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak hanya itu, kretek adalah sebuah identitas budaya, dan mengakar, yang kemudian menjadi simbol pertahanan Bangsa dari penjajah. <\/p>\n \n\n \n

Di sini jika kita mau membaca dengan kacamata yang utuh dan jernih, jelas sekali bahwa kretek dan budaya kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretak, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya. <\/p>\n \n\n \n

Dalam pembacaan antropologi-simbolik khususnya teori paska kolonial, tembakau dan kretek justru dapat dipandang sebagai simbol penting dalam sejarah perlawanan bangsa terhadap struktur kekuasaan kolonial. Tembakau dan kretek adalah barang konsumsi dan sekaligus simbol budaya. Simbolis di sini dalam perspektif arti dan konteks proses ekonomi dan politik yang mengubah wajah masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung, kretek sebagai simbol budaya telah memberi sumbangsih pada proses pembentukan indentitas kultural bangsa dan nasionalisme Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Sebagaimana telah disinggung di beberapa tulisan, sejarah tradisi tembakau yang nantinya kemudian melahirkan tradisi kretek, jelas tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Nusantara mengonsumsi sirih. Tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> yang bahan utamanya ialah buah pinang, gambir, sirih dan kapur, tercipta dari kondisi alam Indonesia. Komponen lain seperti cengkeh bisa ditambahkan. <\/p>\n \n\n \n

Dalam berbagai budaya masyarakat di Nusantara, tradisi mengonsumsi sirih merupakan praktik keseharian, namun dalam konteks tertentu sekaligus juga memiliki fungsi ritual. Di sini sirih didudukkan dalam struktur ritual simbolis yang memadukan lingkungan material dengan dunia spiritual sebagai sarana masyarakat memaknai dunia sekitarnya. Patut diduga kemungkin besar pada awalnya tradisi sirih lekat digunakan sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik.<\/p>\n \n\n \n

Pada masyarakat Dayak, misalnya, sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah (bahasa Jawa: dubang<\/em>, idu abang<\/em>) diyakini sangat mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam masyarakat ini sirih dan nasi adalah sesajen yang lazim digunakan untuk menjalin hubungan dengan para leluhur. Demikian juga masyarakat Jawa, dalam setiap ritual penting mereka kapur sirih sengaja disediakan untuk persembahan bagi arwah para leluhur. Sesajen sirih terdapat dalam berbagai praktik ritual keagamaan di Nusantara, baik itu Hindu dan Budha maupun agama-agama lokal. Selain itu, bagi masyarakat Jawa interaksi sosial juga akan lebih dipermudah melalui aktivitas menyirih bersama atau menyajikan sirih. <\/p>\n \n\n \n

Sejalan dengan masuknya tembakau di Indonesia, anggaplah asumsinya pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, mengunyah tembakau menjadi praktik umum terkait dengan tradisi mengunyah sirih. Penambahan tembakau pada tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> membuktikan penerimaan masyarakat Nusantara terhadap tembakau. Munculnya tembakau mendorong terciptanya alternatif dalam struktur ritual dan simbolis. Ini setidaknya nampak dalam penggunaan istilah nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> dalam bahasa Jawa, yang secara common sense<\/em> lazim digunakan secara sinonim dan boleh jadi sama sekali tidak memiliki perbedaan semantik.<\/p>\n \n\n \n

Gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih dan tembakau bagi kehidupan masyarakat Jawa ditulis Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. \u201cMereka nyaris tak berhenti menyirih dan juga tembakau produksi setempat (Jawa) yang mereka juga isap melalui pipa dari buluh.\u201d Tentang pemakaian sirih dan tembakau di kalangan perempuan, Stockdale<\/em> mengambarkan: \u201cMereka mengunyah sirih, mereka juga menguyah tembakau Jawa yang membuat ludah mereka berwarna merah; dan ketika mereka melakukannya dalam waktu lama, tanda hitam terlihat di pinggir bibir mereka, gigi mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terlihat tak sedap dipandang. <\/p>\n \n\n \n

Tanpa terkecuali juga terlihat dalam tradisi ritus masyarakat Jawa. Rokok berfungsi sebagai keperluan sesajen atau sesaji. Ini nampak dalam ritual Slametan<\/em> masyarakat Jawa secara umum. Andrew Beatty menjelaskan bahwa slametan<\/em> ialah sebuah ritual makan yang terdiri atas persembahan, benda-benda simbolis (sesajen<\/em>), ceramah dan doa bersama. Bentuk upacara ini adalah permohonan berkah generasi saat ini kepada para leluhurnya dengan cara membuat sesajen yang isinya antara lain bunga tujuh rupa, rokok, kopi, bubur lima warna, dan lain sebagainya tergantung tujuan yang hendak dicapai ritual tersebut. Tradisi menyuguhkan sajian rokok kretek dan tembakau berikut makanan dan minuman biasa dilakukan dalam tradisi jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.<\/p>\n \n\n \n

Rokok <\/em>juga menjadi komponen sesaji penting bagi masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo. Dalam ritual ruwatan anak-anak berambut gimbal<\/em>, misalnya, rokok kawung<\/em> selain adalah sesaji khusus juga merupakan perantara komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete. Di Masyarakat Banyumas menyebut rokok untuk keperluan sesaji sebagai \u201crokok sajen\u201d<\/em>. Sedang di beberapa daerah di Jawa Barat, kebiasaan sesaji rokok dikenal dengan istilah \u201cnyuguh\u201d<\/em> atau \u201cnyungsung\u201d<\/em>. <\/p>\n \n\n \n

Sementara dalam ritual masyarakat Dayak, tembakau dan sirih juga menduduki posisi yang sama pentingnya. Untuk membuat sesajen bagi mereka yang sudah mati atau yang sedang menjelang ajal, seringkali tembakau digunakan secara bersamaan atau bahkan sebagai benda subsitusi terhadap sirih. Akhir abad ke-19, tercatat sirih dan rokok umum dijadikan persembahan masyarakat Dayak bagi orang yang telah meninggal. Tembakau, sirih dan beras dikuburkan bersama orang yang meninggal sebagai simbol harapan tentang kehidupan setelah kematian yang terberkahi. <\/p>\n \n\n \n

Sedang dalam perspektif paska kolonial, sejarah mencatat hal penting tentang pergeseran makna simbolis tradisi sirih, khususnya terkait perilaku meludah sirih. Ada sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 yang menceritakan kemarahan bangsawan Bali, I Gusti Ketut Jelantik, kepada Belanda. Dia \u201cmeludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda\u201d. Sejak itu makna komunikatif sirih dan tembakau dalam perilaku meludah seringkali digunakan sebagai cara mengekspresikan kemarahan terhadap rezim kolonial. Meludah sirih memainkan peran aktif dalam membangun simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menguatnya sentimen antikolonial, yang dalam perjalanan sejarahnya nanti diambil alih oleh kehadiran eksistensi kretek.<\/p>\n \n\n \n

Kebijakan politik etis. Terdorong oleh misi memperadabkan negeri jajahan dan sekaligus karena bermaksud mencari keuntungan yang lebih besar, pemerintah Belanda mempromosikan nilai-nilai gaya hidup modern. Di sini tembakau atau rokok merupakan salah satu obyek budaya yang dipromosikan. Budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> kemudian dicap bertentangan dengan kemajuan dan modernitas; diasosiasikan dengan klenik dan perilaku ketinggalan zaman. Adanya standar kebersihan dan keindahan juga membuat praktik nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pun menjadi lebih susah berkembang di kalangan elit masyarakat jajahan maupun ketika hendak diadopsi oleh orang Belanda. Dalam perkembangnya tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> beserta perilaku meludah di sembarang tempat akhirnya justru nampak menjadi penanda inferioritas budaya masyarakat. <\/p>\n \n\n \n

Implikasinya kebiasaan nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> perlahan-lahan namun pasti segera digantikan kebiasaan merokok. Terlebih waktu itu benda seperti rokok adalah salah satu simbol modernitas, kemajuan dan prestise sosial. Citra itu sebagian besar terpatri kuat karena bentuk tampilannya, yaitu tembakau yang digulung rapi dan berbalut kertas putih.<\/p>\n \n\n \n

Awalnya \u201crokok putih\u201d menduduki tempat yang terhormat. Sebelum diproduksi secara lokal, rokok putih dan cerutu impor termasuk barang baru bagi elit Indonesia yang harganya mahal dan tidak terjangkau kalangan kebanyakan. Rokok putih juga dipertentangkan dengan produk olahan tembakau lokal yang pada waktu itu umum disebut \u201cbungkus\u201d<\/em>, yaitu rokok yang dilinting sendiri (tingwe<\/em>) dengan bahan kulit jagung atau daun pisang seperti klobot<\/em> atau kawung<\/em> atau klembak menyan<\/em>. Merokok bungkus<\/em> dikaitkan dengan gaya hidup \u201ckuno\u201d ala pedesaan yang berbeda dengan rokok putih sebagai representasi masyarakat perkotaan yang modern dan terdidik.<\/p>\n \n\n \n

Namun dominasi dan hegemoni budaya rokok putih ini sebenarnya relatif tidak berlangsung lama. Berpusat di Kudus, Jawa Tengah, lahirlah kretek sebagai simbol budaya popular pada akhir abad ke-19. Tepatnya pada titik kisar antara tahun 1870 \u2013 1890. Praktik tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em> pada fase pra-kolonial, yang memadukan daun sirih, pinang, tembakau, kapur dan terkadang juga ditambah cengkeh, dalam perjalanannya kemudian yaitu pada fase kolonial, menginspirasi lahirnya budaya kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lebih dari itu, kretek juga hadir sebagai praktik yang tersambung dengan sejarah masa lalu Nusantara. Adanya komponen campuran cengkeh dan rempah dalam produk olahan tembakau tersebut jelas mengingatkan masyarakat Indonesia pada kenangan akan tradisi nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Korelasi ini dibentuk melalui hubungan sejarah panjang antara tembakau dan cengkeh sebagai bahan tambahan dalam tradisi nyirih<\/em> atau nginang<\/em> dulu, dan yang kini berkembang menjadi kretek. Munculnya aroma khas dari perpaduan tembakau dan cengkeh plus rempah (perisa) yang terbakar jelas menjadi karakteristik pembeda yang membuat cita rasa kretek menjadi demikian khas dan berbeda dengan rokok-rokok modern lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Pada awalnya ia disebut \u201crokok cengkeh\u201d. Tapi, setelah popularitasnya meningkat, kemudian dikenal dengan nama kontemporernya, \u201ckretek\u201d. Kata ini berasal dari peniruan bunyi (onomatope<\/em>) yang berasal dari suara cengkeh yang terbakar yang mengeluarkan bunyi meretih ketika dinyalakan: \u201ckretek-kretek\u201d<\/em>. Perubahan nama menjadi kretek adalah bentuk ekspresi sikap nasionalistik, sebuah simbol yang menjadi determinan pada masa paska kolonial.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n \n\n \n

Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>.
<\/p>\n ","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":" \n

Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n \n\n \n

Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n \n\n \n

Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n \n\n \n

Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n \n\n \n

Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n \n\n \n

Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n \n\n \n

Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n \n\n \n

Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n \n\n \n

Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n \n\n \n

Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n \n\n \n

Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya.
<\/p>\n ","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};